Sekarang gua mau nge pos lagi nah , skarang masalah ny tentang Apa Itu parsisten.
Apa sobat smua udah tau apa arti dari parsisten ?? disini gua coba mengupas ny dari sumber yang cukup bisa gua mengerti . Gua harep sih yang berkunjung ke blog gua ikut tau dan paham seperti apa yang gua pahamin tentang tulisan gua ini.
Di dunia ini, kata Calvin Coolidge, tidak ada yang dapat mengganti
posisi sikap Persisten (dalam menentukan sukses dan gagalnya suatu
usaha). Bukan bakat; banyak orang gagal yang sebenarnya berbakat. Bukan
kecerdasan, tidak sedikit orang yang sangat cerdas tidak mencapai
apa-apa dalam hidupnya. Tidak juga pendidikan; saat ini kita lihat
banyak pengangguran berpendidikan tinggi. Persisten adalah salah satu
kunci sukses utama.
Apa itu persisten? Persisten berasal dari bahasa Inggris persistence
yang bermakna kualitas kepribadian yang memiliki kemauan kuat
(determinasi) untuk melakukan sesuatu atau mencapai sesuatu sampai
berhasil. Seorang yang persisten tidak segan untuk terus mencoba
seberapa berat pun tantangan yang dihadapi.
Dengan kata lain, sikap persisten adalah gabungan dari sikap sabar,
gigih, teguh dan pantang menyerah atas apa yang diusahakan. Seorang yang
persisten selalu ngotot untuk mencapai apa yang diinginkannya kendati
menghadapi kesulitan dan tantangan.
Dalam Al Quran, sikap persisten disebut shabr (QS Al Baqarah 2:153).
Shabr dalam Al Quran sedikit berbeda dengan padanan kata “sabar” dalam
bahasa Indonesia. Karena yang terakhir lebih berkonotasi negatif dan
identik dengan kepasrahan membuta.
Namun demikian, sikap persisten harus dibarengi dengan sedikitnya empat faktor berikut untuk menuju kesuksesan yang diinginkan.
Pertama, tujuan atau visi. Sebelum melangkah, miliki tujuan apa yang
diinginkan. Visi atau tujuan sangatlah penting. Hanya dengan memiliki
tujuan, start kita akan mencapai finish line.
Kedua, perencanaan. Perencanaan yang matang atas apa yang hendak
dilakukan itu penting agar jelas langkah detail apa yang perlu dilakukan
untuk mencapai tujuan. Di samping itu, fleksibilitas dalam teknik
pelaksanaan juga diperlukan. Sebagai contoh, apabila Rencana A tidak
atau sangat sulit berhasil, maka tak perlu ragu untuk ganti ke Rencana
B, Rencana C, dan seterusnya.
Teknis perencanaan boleh berubah, tapi tujuan tetap sama. Thomas
Edison, penemu energi listrik, persisten atas tujuannya menemukan energi
listrik. Akan tetapi dia fleksibel dalam teknik dan percobaan yang
dilakukan. Thomas Edison telah melakukan 10.000 kali percobaan dengan
metode yang berbeda sebelum akhirnya berhasil.
Ketiga, evaluasi. Dalam manajemen hidup maupun organisasi modern,
evaluasi identik dengan maju mundurnya seseorang atau suatu organisasi.
Kesalahan dan kelemahan akan menjadi catatan yang tak akan terulang atau
minimal dikurangi. Sementara kelebihan dan pencapaian akan menjadi
motivasi untuk langkah berikutnya yang lebih baik.
Sikap persisten yang benar disebut dalam Al Quran sebagai mujahadah.
Dengan sikap mujahadah ini kemungkinan berhasil sangat tinggi. (QS Al
Ankabut 29:65)
***
Walaupun persisten adalah sikap pantang menyerah, namun ada juga saat di
mana menyerah atau meninggalkan tujuan itu dapat bahkan perlu
dilakukan. Yakni, apabila (a) tujuan yang hendak dicapai sudah dianggap
tidak lagi relevan; (b) tujuan yang hendak dicapai mengalami kegagalan
dengan berbagai macam cara dan teknis yang dilakukan. Pada titik inilah,
perilaku tawakkal diperlukan (Hud 11:56).
SUMBER : A. Fatih Syuhud (http://www.fatihsyuhud.net)
No comments:
Post a Comment